Sabtu, 19 Oktober 2013
Unsur-Unsur Penelitian Survai
Unsur-Unsur Penelitian Survai
Penelitian Survai
Penelitian survai adalah suatu upaya yang sistematis untuk menerangkan fenomena sosial dengan cara memandang fenomena tersebut sebagai hubungan antar variable, dalam memandang variable tersebut metodeolgi penelitian survai membpunyai dua tahap, yaitu ;
1. Tahap Teorisasi
Tahap ini diperlukan, karena adanya pengetahuan tentang konsep, proposisi, dan teori, hingga peneliti akan merumuskan teoritis secara baik.
2. Tahap Empiris
Pada tahab yang kedua berisi pengetahuan tentang variable, hipotesa dan defenisi opraional (agar peneliti mempunyai gambaran yang jelas tentang dala yang akan dikumpulkan dalam suatu penelitian).
Dengan adanya kedua tahap tersebut, barang tentu inti pokok ilmu pengetahuan sudah terpenuhi, yaitu konsep, proposisi, teori, variable, hipotesa, dan defenisi oprasional.
Diagram Hubungan Antar Unsur-Unsur Penelitian
Propoisi
Konsep Konsep
Hipotesa
Variable Varibale
Hipotesa Statistik
Defenisi Oprasional defenisi Oprasional
Sumber :Singarimbum, Soffyan, Dalam Metodologi Penelitian Sosial
Penjelasan Perangkat Pokok Ilmu Penegatahuan
Penjelasan perangkat pokok ilmu pengetahuan dalam berbagai metode penelittian, terutama dalam cangkupan survai antara lain, sebagai berikut ;
Konsep
Konsep dalam penelitian survai adalah istilah yang khusus untuk menggambarkan secara tepat, fenomena yang hendak diteliti, melalui konsep peneliti diharapkan akan dapat menyederhanakan pemikiran, dengan menggunakan istilah untuk beberapa kejadian (events) yang saling berkaiatan satu dengan yang lainya.
Dalam penelitian sendiri, konsep dibedakan menjadi dua, yaitu ;
1. Konsep yang jelas hubunganya dengan fakta atau realitas yang mereka wakili
2. Konsep yang lebih abstrak atau lebih kabur dengan relitas atau fakta yang mewakili
Kedua konsep tersebut memiliki perbedaan yang sangat signifikan, misalanya saja dicontohkan konsep pertama (meja) yang dapat diukur, diamati, dan di ilustrasikan, sedangkan pada konsep yang kedua lebih banyak diamati dalam penelitian sosial, yang tentunya tidak mudah dihubungkan dengan fenomena yang sesungguhnya, contohnya saja, kecerdasan, prilakau memilih, demokrasi, dan debirokratisasi.
Adapun kedua konsep ini terkadang saling berkesinambungan dalam penelitianya, misalkan penelitian tentang penduduk yang menyangkup beberapa kiteria di dalamnya seperti, mobilitas, fartilitas, mortalitas, kelangsungan hidup anak, status wanita, partisipasi keraja, dan jenis kelamin, yang bisa diamati dengan menggunakan kedua konsep tersebut.
Konsep penggabungan ini dikenal dengan istilah inferensi yaitu, tingkatan abstraksi yang lebih tinggi, dari kejadian-kejadian yang kongrit, sehingga tidak mudah menghubungkan kejadian tersebut (konstruk), semakin besar jarak antar konsep tersebut, atau konstruknya maka relisanya semakin besar pula terjadinya salah pengertian, serta salah penggunaan.
Maka pengertian konsep secara luas diartikan abtraksi mengenai suatu fenomena yang di dasarkan atas generalisasidari sejumlah kateristik kejadian, keadanan, kelompok atau individu tertentu.
Peran konseb ini cukup menmpati taraf penting dalam penelitian, yaitu menggabungkan dua teori dan observasi antar abstraksi dan realitas
Proposisi
Proposisi berarti hubungan yang logis antar dua konsep realitas sosial, untuk realitas sosial, sering digambarkan antar satu konsep, sedangkan kompleksnya realitas sosial dihubungkan dengan beberapa campuaran konsep.
Contoh proposisi adalah “Proses Migrasi Tenaga Kerja Ditunjukan Oleh Tenaga Kerja” yang bermula dari pernyataan Hariss dan Tadaro, dal masyarakaat migrasi.
Maka dapatlah dikataan proposisi tak memiliki format tertentu, yang biasa disajaikan dalam bentuk kalimat pernyataan yang menunjukan dua konsep, selain itu dalam penelitian juga dikenal dengan adanya dua tipe proposisi, Pertama tipe aksioma atau postulat yang berarti prosposi petrnyataanya tak perlu lagi diteliti sebab sudah teruji kebenaranya, contonya pernyatataan bahwa prilaku manusia sesuai kepentinganya, kedua tipe thorem yang biasa lebih menjadi pusat penelitian, yaitu proposisi yang deduksinya dari aksioma, misalnya pada teori kestabilan ekonomi, yang baanyaak mempengaruhi dari hal tersebut.
Teori
Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstrak, defenisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial, maka teori ini menpati peranan tertinggi dalam penelitian, dengan adanya teori peneliti mencoba menerangkan fenomenal sosial yang terjadi.
Teori sediri, dalam buku (singaribium, dan effendi : 2012) mengandung tiga element penting,
1. Serangkaian proposisi yang mengandung konsep saling berhubungan
2. Teori menetrangkan secara sistematis suatu fenomena sosial dengan cara menentukan hubungan antar konsep.
3. Teori merupakan fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana, yang saling berhubungan.
Hal-hal inilah yang menghubungkan antara proposisi dan konsep yang tidak dapat dipisahkan, baik secara aksiomatis mauapun thorem, maka wajar saja proses penyususnan teori menggunakan model deduksi-induksi, kerane peneliti menggunakan teorinya pada asioma dan observasi, proses ini amat wajar jika terjadi kesalahan, bahka gleser dan stratus berpendapat bahwa, teori seharusnya berakar pada realitas.
Variable
Variable diarikan sebagai variasi yang memiliki nilai, artinya variable itu berfungsi mengubah konsep agar dapat diteliti secara empiris, caranya adalah dengan memilih dimensi tertentu konsep yang mempunyai variasi nilai.
Contohnya adalah konsep “Badan”, agar dapat diteliti secara empiris maka harus dibuat variable dengan mengambil dimensi konsep, misalnya tinggi badan, berat badan atau bentuk badan.
Dalam penelitian sosial variable sendiri, juga dibedakan menjadi dua, yaitu ;
1. Veriable kategorikal (categoricaal variable)
Yaitu variable yang membagi responden menjadi dua kategori (dekotomi), atau beberapa kategori (politomi), contoh variable dekotomi adalah jenis kelamin (laki/ perempuan), sedangkan variable politomi adalah jenjang pendidikan (Paud, TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, dan S3).
2. Variable Bersambung (continous Variable)
Variable bersambung adalah variable yang nilai-nilainya berbentuk skala, baik bersifat ordinal maupun rasio, contohnya adalah usia, jumlah pendapatan, tingkat sentuhan media massa, dan lain sebagainya.
Namun sering terjadi, dari variable bersambung diubah menjadi variable kategorikal agar peneliti lebih mudah menggunakan tabulasi sialang dan analisa variasi, dan sebaliknya variable kategorikal tidak dapat dirubah menjadi variable bersambung.
Hipotesa
Hipotesa diartikan sebagai sarana penelitian ilmiah yang penting dan tidaak bisa di tinggalkan, karena ia merupakan instrumen krja dari teori, tahap hipotesis dilakuakn sesudah hasil deduksi dari teori dan populasi.
Oleh karena itu hipotesa berbentuk suatu pernyataan yang menghubungkan antar dua variable atau lebih, maka perbedaan dengan proposisi yaitu, hipotesa dianggap lebih jelas dan oprasional, lebih siap diuji secara empiris, karena variable-variablenya dapat diukur.
Maka barang tentu dalam hipotesa terdapat beberapa variable yang saling mempengaruhi lebih dibandingkan dengan propisisi, Hubunganya yang terdapat pada hipotesa, antara lain yaitu ;
1. Variable terpengaruh, tindajkan ekpresif
2. Variable pengaruh (kondidi lingkungan sosial), hiptesa seperti ini juga dinamakan hipotesa dirumuskan secara emplisit ”tindakan ekprensisf lebih tinggi pada kehidupan masyarakat”.
Dalam penelitian sosiaal sebenarnya jarang sekali kita menempukan penelitian yang hanya terdiri dari dua variable, karna inti penelitianya masyarakat yang mempunyai sifat multidinamais, oleh karnanya hipotesa yang sering dilakaukan penelitian ilmu sosial (psikologi, sosiologi, dan antropologi) adalah hipotesa multivariant.
Dasarnya hipotesa adalah pemikiran spekulatif dari penelitian yang sudah ditentukan dengan teori dan proposisi, namun meskipun demikian terkadang observasi empiris yang ada tak mesti harus sesuai dengan hipotesa yang ditentukan, hipotesa yang tidak terbukti akan dapat menimbulkan pemikiran baru, baik berupa teori baru ataupun metodologi baru, yang akan terus mengembangkan ilmu pengetahuan.
Defenisi Oprasional
Defenisi oprasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya mengukur suatu variable, dengan kata lain defenisi oprasional adalah semcam petunjuk bagaimana caranya mengukur variable.
Kegunaan defenisi Oprasional adalah untuk menghindari ketidak siapan variable dan konstruk (construk) yang belum sepenuhnya siap diukur, artinya dengan adanya defenisi oprasional dapat saling membandingkan antar satu pihak pengukuran teori yang sudah ada dangan adanya pernyataan dari hipotesis, penelitian yang tersedia.
Formulasi defenissi oprasional dapat mengambil berbagai bentuk, contohnya “tingkat kecerdasaran seseorang ditunjukan oleh skor (score) dari tes kecerdasan”, dengan adanya anaslisi kebenasran yang terja
proses penenlitian survai
RESUME BAB II
Proses Penelitian Survai
Proses penenlitian sosial mempunyai tujuan menerangkan suatu fenomena sosial, atau suatu peristiwa (event) sosial, oleh karna itu dalam instrumen peneliti sendiri diharapkan mempunyai dua syarat penting yaitu ;
1. Logika atau rasionalitas
2. Observasi atas fakta-fakta sosial
Kedua hal diatas adalah yang paling frontal dalam penelitian, sebab pemahaman ilmiah atas realitas dan sosial harus logis, diterima oleh akal sehat dan sesuai dengan yang terjadi dalam realitasnya.
Sering kali karna hal itu ilmu penegetahuan, termasuk ilmu sosial (logika-empiris), artinya teori sosial digunakan sebagai sebagai unsur logika, dan penelitian berguna sebagai hal yang paling empiris.
Maka seyogyanya dari kedua unsur diatas ditarik kesimpulan bahwa, teori sosial dan penelitian sosial terjadi perbedaan, meskipun selalu berjalan bersama, perbedaan-perbedaan tersebut terletak pada segi manfaatnya, dimana teori penelitian berfungsi sebagai pemikiran awal berupa spekulatif, sedangkan penelitian berguna sebagai pembuktian, yang aganya bisa menjadi bantahan serta penyempurnaan dari teori-teori sebelumnya.
Banyak studi yang dicontohkan untuk dapat menganalisa, misalkan saja teori Gold Scheider dan uhlenberg tentang pernyataan “ golongan minoritas mempertahan kaneksentesinya adalah dengan memperbanyak jumlah mereka melalaui tingkat kelahiran yang tinggi”, bertitik tolak pada ini peneliti Indonesia jelas memunculkan hipotesis bahwa “golongan Tiong hoa di Indonesia akan memperbanyak keturunan”.
Pada kenyataanya hal ini tidak sesuai saat proses penelitian, sebab hasil empirisnya menyatakan bahwa kelompok Tiong Hoa fartilitas kelahiran selalu lebih rendah dibandingkan dengan kelompok ataupun suku lain.
Oleh karena itu penyesuaian model yang ada di dalam penelitian sosial dan teori sosial, tidaklah menyangkup satu saja, melainkan dalam pembuktian empirisnya dikenal beberapa metode guna menemukan hasil yang dianggap pas dan benar (seusi dengan lapangan yang ada), diantaranya adalah sebagai berikut ;
A. Model Penelitian Statis
Model penelitian statis menggambarkan proses penelitian, yang menyangkup beberapa step (Teoritis, Oprasionalisasi, dan pengujian Hipotesis), guna menentukan hasil yang empiris.
Tahap “Teoris”, penelitian ini mewajibkan seorang harus mengklarifikasi variasi niat dan praktek penerimaan dari berbagai teori tentang adanya suatu maslah sosial, yang mukin bisa dipengaruhi oleh faktor sejarah, dan faktor lingkungan.
Hingga memunculkan sebuah cara matematis (dikemukanan Fisbin), niat seseorang untuk berprilaku (N), dipengaruhi oleh persepsiya tentang manfaat prilku tersebut (PM), serta persepsinya tentang kelompok panutanya (PS).
Tahap “Oprasionalisasi” yaitu tahap penerjemahan teori-teori yang masih umum tadi menjadi variable, indikator dan defenisi dan defenisi oprasional. Spekulasinya menimpulkan adanya hipotese pertanyaan yang masih perlu di jelaskan kembali.
Tahap “pengujian hipotesa”, tahap pengujian hipotesa adalah tahap terahir yang berguna sebagai, penyusunan instrumen penelitian yang berguna mengumpulkan data dari kedua tahab sebelumnya, penentuan penelitian dan sempel penelitian, penentuan teknik penggumpulan data, serta penentuan teknik analisa dengan kuantitatif atau kualitatif.
Misalkan saja dalam penelitian “imunisasi penyakit campak pada bayi”, dimana teori-teori menjelaskan bahwa semakin sering seorang anak melakukan imunisasi maka sudah sepantasnya seorang nak bisa terbebas dari penyakit campak, proses ini selanjutnya di detailkan dengan tahap oprasionalitas, dimana variable keselamatan bayi ditentukan orang tua, yang bisa dipengaruhi tingakat pendidikan, dari spekulasi oprassional tersebut memunculkan hipotesis “ bahwa semakin terhindar seorang bayi dari penyakit campak, semakin sering orang tua memberi imunisasi”, hingga tiba pada tahap tershir yakni pengujian hipotesis, yang menghasilkan data empiris.
Data dari Metode Penelitian Statis tersebut memiliki beberapa kelemahan, yaitu ;
Dalam kenyataanya proses penelitian tak semulus yang di gambarkan
Proses penelitian tak semekanis yang digambarkan
Hingga dapat dikatakan metode lebih conding terpaku pada teoritis.
B. Model Penelitian Dinamis
Model ini dinamakan Babbie sebagai model “dua Logika”, yang menjasis paling sesuai menggambarkan proses penelitian dan realitas, Hal demikian dikeranakan proses ini menjelaskan dua cara dedkasi sebagai teori, dan induksi menjadi generalisasi empiris.
Cara bolak balik tersebetut, digambarakan wellece, bermula dari teori yang menhasilakn hipotesa, dan hipotesa menunjukan bagimana cara melakukan observasi, dan observasi menghasikan generalisasi dan generalisasi kan menimbulkan sanggahan atau dukungan pada teori.
Diagramnya metode penelitian dinamis adalah sebagai berikut
Teori
Generalisasi Hipotesa
Empiris
Observasi
Sumber : E.R. Babbie, the practice of research. 4th Edition. Belmont, Widswoarth, 1986 (singabrium, effendi, 2012)
Sudah berang tentu pada seluruh element proses ini, penelitian bernalar pada observasi, jadi, unsur logikadan unsur pembuktian empiris dalam penenlitian mempunyai fungsi yang sama pentingnya.
C. Preoses Penelitian Survai
Salah satu metode penelitian yang amat luas penggunanya adalah metode penelitian survai, yang mempunyai ciri mengumpulkan data dari respondeng berjumlah banyak menggunakan kuesioner, maka keuntunganya adalah memunculkan kemungkinan pembuaatan generalisasi untuk populasi besar.
Menurut wellece, proses penelitian survai berguna mentransformasikan lima komponen informasi ilmian, yaitu ;
1. Teori
2. Hipotesa
3. Observasi
4. Generalikasi empiris
5. Penerimaan atau penolakan hipotesa.
Kelimanya dikontrol dalam metodologis yang sama yaitu
1. Deduksi logika
2. Interprestasi, penyusunan instrumen, penyusunan sekala, dan penentuan sempel
3. Pengukuran penyederhanaan, dan perkiraan paramenter
4. Pengujian hipotesa, serta infrementasi logika
5. Foemulasi konsep, formulasi populasi dan penataan proposisi
Hingga pada penjabaran motode ini selalu diawali dengan adanya minat peneliti untuk menjabarkanya fenomena sosial tertentu, minat itu kemudian ditindak lanjuti menjadi masalah penelitian yang lebih jelas dan sistematis dengan menggunakan informasi ilmiah yang sudah tersedia dalam litelatur ( teori).
Teori ini kemudian dekembangkan dalam model deduksi memunculkan adanya hipotesa yaitu informasi yang lebih spesifik dan lebih sesuai dengan tujuan penelitian.
Langkah selanjutnya hipotesa memberikan variable penelitian serta hubunganya, adapun guna menentukan variable yang cocok peneliti mengunalakn metodologis tertentu untuk mengambil sepel dari banyaknya poipulasi yang ada.
Dalam penelitian survai sendiri, populasi berguna menemukan jumlah yang relavan dalam buat penelitinya, informasi itu disebut data atau observasi, pengelolahan observasi (data), dioleh dengan mengunakan model statistik (menyederhanakan data).
Adanya ketepatan dalam hasil ditentukan paramenter, yang terjadi karena adanya proses perbandingan antara informasi tentang sempel dan informasi populasi (pikiran paramenter).
Cara-cara tersebut sebenarnya dalam penelitian survai, berintikan keahlian dan kemampuan peneliti, guna menentukan hasil yang dianggap relevan denagn kenyataan yang sebenarnya
RESUME BAB III
Unsur-Unsur Penelitian Survai
Penelitian Survai
Penelitian survai adalah suatu upaya yang sistematis untuk menerangkan fenomena sosial dengan cara memandang fenomena tersebut sebagai hubungan antar variable, dalam memandang variable tersebut metodeolgi penelitian survai membpunyai dua tahap, yaitu ;
1. Tahap Teorisasi
Tahap ini diperlukan, karena adanya pengetahuan tentang konsep, proposisi, dan teori, hingga peneliti akan merumuskan teoritis secara baik.
2. Tahap Empiris
Pada tahab yang kedua berisi pengetahuan tentang variable, hipotesa dan defenisi opraional (agar peneliti mempunyai gambaran yang jelas tentang dala yang akan dikumpulkan dalam suatu penelitian).
Dengan adanya kedua tahap tersebut, barang tentu inti pokok ilmu pengetahuan sudah terpenuhi, yaitu konsep, proposisi, teori, variable, hipotesa, dan defenisi oprasional.
Diagram Hubungan Antar Unsur-Unsur Penelitian
Propoisi
Konsep Konsep
Hipotesa
Variable Varibale
Hipotesa Statistik
Defenisi Oprasional defenisi Oprasional
Sumber :Singarimbum, Soffyan, Dalam Metodologi Penelitian Sosial
Penjelasan Perangkat Pokok Ilmu Penegatahuan
Penjelasan perangkat pokok ilmu pengetahuan dalam berbagai metode penelittian, terutama dalam cangkupan survai antara lain, sebagai berikut ;
Konsep
Konsep dalam penelitian survai adalah istilah yang khusus untuk menggambarkan secara tepat, fenomena yang hendak diteliti, melalui konsep peneliti diharapkan akan dapat menyederhanakan pemikiran, dengan menggunakan istilah untuk beberapa kejadian (events) yang saling berkaiatan satu dengan yang lainya.
Dalam penelitian sendiri, konsep dibedakan menjadi dua, yaitu ;
1. Konsep yang jelas hubunganya dengan fakta atau realitas yang mereka wakili
2. Konsep yang lebih abstrak atau lebih kabur dengan relitas atau fakta yang mewakili
Kedua konsep tersebut memiliki perbedaan yang sangat signifikan, misalanya saja dicontohkan konsep pertama (meja) yang dapat diukur, diamati, dan di ilustrasikan, sedangkan pada konsep yang kedua lebih banyak diamati dalam penelitian sosial, yang tentunya tidak mudah dihubungkan dengan fenomena yang sesungguhnya, contohnya saja, kecerdasan, prilakau memilih, demokrasi, dan debirokratisasi.
Adapun kedua konsep ini terkadang saling berkesinambungan dalam penelitianya, misalkan penelitian tentang penduduk yang menyangkup beberapa kiteria di dalamnya seperti, mobilitas, fartilitas, mortalitas, kelangsungan hidup anak, status wanita, partisipasi keraja, dan jenis kelamin, yang bisa diamati dengan menggunakan kedua konsep tersebut.
Konsep penggabungan ini dikenal dengan istilah inferensi yaitu, tingkatan abstraksi yang lebih tinggi, dari kejadian-kejadian yang kongrit, sehingga tidak mudah menghubungkan kejadian tersebut (konstruk), semakin besar jarak antar konsep tersebut, atau konstruknya maka relisanya semakin besar pula terjadinya salah pengertian, serta salah penggunaan.
Maka pengertian konsep secara luas diartikan abtraksi mengenai suatu fenomena yang di dasarkan atas generalisasidari sejumlah kateristik kejadian, keadanan, kelompok atau individu tertentu.
Peran konseb ini cukup menmpati taraf penting dalam penelitian, yaitu menggabungkan dua teori dan observasi antar abstraksi dan realitas
Proposisi
Proposisi berarti hubungan yang logis antar dua konsep realitas sosial, untuk realitas sosial, sering digambarkan antar satu konsep, sedangkan kompleksnya realitas sosial dihubungkan dengan beberapa campuaran konsep.
Contoh proposisi adalah “Proses Migrasi Tenaga Kerja Ditunjukan Oleh Tenaga Kerja” yang bermula dari pernyataan Hariss dan Tadaro, dal masyarakaat migrasi.
Maka dapatlah dikataan proposisi tak memiliki format tertentu, yang biasa disajaikan dalam bentuk kalimat pernyataan yang menunjukan dua konsep, selain itu dalam penelitian juga dikenal dengan adanya dua tipe proposisi, Pertama tipe aksioma atau postulat yang berarti prosposi petrnyataanya tak perlu lagi diteliti sebab sudah teruji kebenaranya, contonya pernyatataan bahwa prilaku manusia sesuai kepentinganya, kedua tipe thorem yang biasa lebih menjadi pusat penelitian, yaitu proposisi yang deduksinya dari aksioma, misalnya pada teori kestabilan ekonomi, yang baanyaak mempengaruhi dari hal tersebut.
Teori
Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstrak, defenisi, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial, maka teori ini menpati peranan tertinggi dalam penelitian, dengan adanya teori peneliti mencoba menerangkan fenomenal sosial yang terjadi.
Teori sediri, dalam buku (singaribium, dan effendi : 2012) mengandung tiga element penting,
1. Serangkaian proposisi yang mengandung konsep saling berhubungan
2. Teori menetrangkan secara sistematis suatu fenomena sosial dengan cara menentukan hubungan antar konsep.
3. Teori merupakan fenomena tertentu dengan cara menentukan konsep mana, yang saling berhubungan.
Hal-hal inilah yang menghubungkan antara proposisi dan konsep yang tidak dapat dipisahkan, baik secara aksiomatis mauapun thorem, maka wajar saja proses penyususnan teori menggunakan model deduksi-induksi, kerane peneliti menggunakan teorinya pada asioma dan observasi, proses ini amat wajar jika terjadi kesalahan, bahka gleser dan stratus berpendapat bahwa, teori seharusnya berakar pada realitas.
Variable
Variable diarikan sebagai variasi yang memiliki nilai, artinya variable itu berfungsi mengubah konsep agar dapat diteliti secara empiris, caranya adalah dengan memilih dimensi tertentu konsep yang mempunyai variasi nilai.
Contohnya adalah konsep “Badan”, agar dapat diteliti secara empiris maka harus dibuat variable dengan mengambil dimensi konsep, misalnya tinggi badan, berat badan atau bentuk badan.
Dalam penelitian sosial variable sendiri, juga dibedakan menjadi dua, yaitu ;
1. Veriable kategorikal (categoricaal variable)
Yaitu variable yang membagi responden menjadi dua kategori (dekotomi), atau beberapa kategori (politomi), contoh variable dekotomi adalah jenis kelamin (laki/ perempuan), sedangkan variable politomi adalah jenjang pendidikan (Paud, TK, SD, SMP, SMA, S1, S2, dan S3).
2. Variable Bersambung (continous Variable)
Variable bersambung adalah variable yang nilai-nilainya berbentuk skala, baik bersifat ordinal maupun rasio, contohnya adalah usia, jumlah pendapatan, tingkat sentuhan media massa, dan lain sebagainya.
Namun sering terjadi, dari variable bersambung diubah menjadi variable kategorikal agar peneliti lebih mudah menggunakan tabulasi sialang dan analisa variasi, dan sebaliknya variable kategorikal tidak dapat dirubah menjadi variable bersambung.
Hipotesa
Hipotesa diartikan sebagai sarana penelitian ilmiah yang penting dan tidaak bisa di tinggalkan, karena ia merupakan instrumen krja dari teori, tahap hipotesis dilakuakn sesudah hasil deduksi dari teori dan populasi.
Oleh karena itu hipotesa berbentuk suatu pernyataan yang menghubungkan antar dua variable atau lebih, maka perbedaan dengan proposisi yaitu, hipotesa dianggap lebih jelas dan oprasional, lebih siap diuji secara empiris, karena variable-variablenya dapat diukur.
Maka barang tentu dalam hipotesa terdapat beberapa variable yang saling mempengaruhi lebih dibandingkan dengan propisisi, Hubunganya yang terdapat pada hipotesa, antara lain yaitu ;
1. Variable terpengaruh, tindajkan ekpresif
2. Variable pengaruh (kondidi lingkungan sosial), hiptesa seperti ini juga dinamakan hipotesa dirumuskan secara emplisit ”tindakan ekprensisf lebih tinggi pada kehidupan masyarakat”.
Dalam penelitian sosiaal sebenarnya jarang sekali kita menempukan penelitian yang hanya terdiri dari dua variable, karna inti penelitianya masyarakat yang mempunyai sifat multidinamais, oleh karnanya hipotesa yang sering dilakaukan penelitian ilmu sosial (psikologi, sosiologi, dan antropologi) adalah hipotesa multivariant.
Dasarnya hipotesa adalah pemikiran spekulatif dari penelitian yang sudah ditentukan dengan teori dan proposisi, namun meskipun demikian terkadang observasi empiris yang ada tak mesti harus sesuai dengan hipotesa yang ditentukan, hipotesa yang tidak terbukti akan dapat menimbulkan pemikiran baru, baik berupa teori baru ataupun metodologi baru, yang akan terus mengembangkan ilmu pengetahuan.
Defenisi Oprasional
Defenisi oprasional adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya mengukur suatu variable, dengan kata lain defenisi oprasional adalah semcam petunjuk bagaimana caranya mengukur variable.
Kegunaan defenisi Oprasional adalah untuk menghindari ketidak siapan variable dan konstruk (construk) yang belum sepenuhnya siap diukur, artinya dengan adanya defenisi oprasional dapat saling membandingkan antar satu pihak pengukuran teori yang sudah ada dangan adanya pernyataan dari hipotesis, penelitian yang tersedia.
Formulasi defenissi oprasional dapat mengambil berbagai bentuk, contohnya “tingkat kecerdasaran seseorang ditunjukan oleh skor (score) dari tes kecerdasan”, dengan adanya anaslisi kebenasran yang terjadi.
Selasa, 15 Oktober 2013
Logika Kehidupan Kelompok
Sudah merupakan naluriah kehidupan berkelompok, hal ini terbukti dengan adanya sikap seseorang yang takan bisa hidup sendirian, meskipun toh ada historis cerita tentang beberapa tokoh yang menyendiri (Robinson Crusoe, Nabi Adam, hingga tokoh tarzan), namanya begitu familiar ketika berbicara indivisu demikian.
Bila ditelisik lebih mendalam tentu kehidupan mereka takan bisa diceritakan bila tak ada yang menyaksikan, logikanya jika seseorang hidup sendiri sampi ia mati maka jalan ceritanya akan habis pula bila tidak ada seaksi.
Hingga munculah tokoh “Friday”, sebagai teman Robinson Crusoe, tokoh “Hawa” pasangan adam, yang aahirnya menciptakan keturunan terus menerus.
Hal ini disebabkan manusia memiliki dua hasrat naluriah ;
• Keinginan untuk menjadi satu dengan orang lain
• Keinginan untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya
Landasan manusia sendiri terbagi menjadi dua bentuk
Jasmani (raga) dan Rohani (jiwa), segi rohanai masnusia terdiri dari alam fikiran dan perasaan, apabila hal itu di realisasikan otomatis menciptakan kehendak yang kemudian menjadi sikap tindak, sikap tindak itulah yang nantinya akan mejadi landasan gerak segi jasmaniah manusia, memunculkan naluri untuk senang tiasa berhubungan dengan sesama, hubungan yang berkesinambungan tersebut dianamakan hubungan interaksi.
Hubungan-hubungan itu menurut Charlos Harton cooly dan ferdinan tonnis menghasilakn paguyuban (gemeinschaft) dan patembayan ( gesellschaft), dimana pengertian paguyuban adalah bentuk kehidupan bersama dimana anggota-anggotanya terikat hubungan batin yang murni (alamiah) dan kekal. Sedangakan patembayan (gesellschaft) merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, bersifat suatui bentuk dalam fikiran semata.
Metode dan Proses Penelitian
Metode dan proses sosial pada dasarnya tidak lepas dari teknik untuk mengetahui fakta sosial, dimana Rizer menggambarkan sebagai “kotak hitam”, yang hanya bisa dilihat bentuk dan warna, namun tak bisa dilihat isi dalamnya.
Filosofi diatas agaknya tepat mengambarkan penelitian sosial, yang bisa dinilai dari bentuk materi yang nyata tapi tak bisa melihat nilai, norma, peranan, pranata yang berada dalam kandungan kotak ilmu, oleh karena itu sosiolog menawarkan metode dan proses sosial agar kiranya lepas dari pemikiran spekulatif saja.
Sejalan dengan itu, pada pembahasan akan diterangkan tentang metode dan proses penelitian
A) Metode
Pada dasarnya metode, secara umum dibedakan menjadi lima golongan yaitu :
1. Penelitian survai
2. Eksperimen
3. Grouded research
4. Kombinasi pendekatan kuantitatif dan kualitatif
5. Analisis data kuesioner
Semua metode tersebut mewakili beragam penelitian yang ada, sebab kesesuaian cara yang diambil dalam penelitian berjalan lurus dengan pengaruh ilmu, seperti conton pada metode eksperimen lebih cocok digunakan dalam basic ilmu eksak (hitungan nyata) berupa hasil kausal, misalnya “ pada derajat tertentu, air akan mengalami proses pembekuan”, maka pada metode janis ini lebih mudah dilakukan di laboraturium dari pada di lapangan bebas.
Sedangkan dalam metode survai hal tersebut tidak berlaku, seorang peneliti haruslah mengambil sempel dari populasi, untuk kesimpulan dari sekumpulan sifat manusia Multi Dimensi ( banyak faktor yang mempengaruhi).
Pernyataan diatas adalah gambaran abstrak kelima metode penelitian, yang bisa dibe-bedakan cara serta kegunaanya, adapun penjelasan secara detail adalah sebagai berikut ;
1) Penelitian Survai
Penelitian survai adalah penelitian yang mengambil sempel dari satu populasi dengan menggunakan kuesioner sebagai alat data yang pokok, barang tentu unit analisa yang dilakoni dengan mencari sempel yang mewakili dari sekumpulan populasi.
1
Misalnya permasalahan masalah sosial dan anspirasi masarakat dalam pemilihan gubernur di Provinsi Lampung, hal yang menjadi titik pacu kosentrasi peneliti adalah individu yang ada dalam masyarkat lampung, bukan seluruh masarakat Lampung.
Penelitian survai digunakan dengan beberapa tujuan, di antaranya adalah sebagai berikut ;
Penjajangan (eksploratif), dalam tahap mencari-cari masalah yang akan diteliti lebih lanjut, maka pada proses ini sifat penelitin masih terbuka
Dekskritif, merupakan pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu, misalnya saja tentang perceraian, keadaan gizi, yang dilakukan dengan pengembangan konsep dan menghidupkan fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesa.
Penjelasan (explanatory atau confirmatory), yakni untuk menjelasakan hubungan kausal dan pengujian hipotesa
Evaluasi, dari tindakan penelitian survai yang terprogram, dari dua jenis evaluasi yang ada yaitu evaluasi formatif (mencari umpan balik dari penelitian yang ada) dan evaluasi summatif ( dilakukan pada ahir program tentang tujuan penelitian).
Prediksi atau meramalkan kejadian tertentu dimasa yang akan datang
Penelitian oprasional, memusatkan penelitian pada variable-variable yang berkaitan dengan aspek oprasional suatu program, setelah diketahui hambatan-hambatan, penelitian ini dimaksud untuk meminimalisirnya.
Pengembangan indikator-indikator sosial, yang bisa dilakukan dengan adanya survai-survai berkala sebelumnya, seperti dalam contoh penelitian Biro Pusat Statistik (BPS).
2) Penelitian Eksperimen
Penelitian ini sangat sesuai bila diterapkan dalam hipotesis yang berlandaskan pada pengujian kausal antar variable-variable penelitian, oleh sebab itu kerap kali dalam proses penelitian ini diperlukan kelompok pembanding (control Group), hal ini untuk mengurangi ancaman dalam hasil penelitian yang tidak terkontrol.
Dicontohkan saja dalam penelitian film ternsmigrasi, yang terdiri dari dua kelompok desa tujuan, dalam hal ini kelompok eksperimen mewawancarai keduanya dengan (pre-test) secara langsung, lalu mempertontonkan film setimulus, maka barang tentu hasil keduanya menjadi perbandingan adakah pengaruh perubahan sikap bertransmigrasi akibat stimulus eksperimen.
Dari sejumlah hasil penelitian terkait eksperimen tersebut, disusunalah suatu kesimpulan, tentang transmigrasi.
3) Grounded Research
Grounded Research merupakan penelitian sosial yang cenderung menggunakan pendekatan kualitatif, tentu model seperti ini jauh dari pengembangan tokoh sosiolog kuantitatif seperti emile durheim, cooley, veblen, dan lain sebagainya.
2
Grounded Research menggunakan data terbaru yang dijadikan teori di lapangan, demi meminimalisir kesalahan dilapangan.
Sumber teori seperti ini berangkat dari penyajian data kuantitatif yang cenderung bertolak pada hipotesa dan teori yang sudah mapan, yang sering kali peneliti utama tidak pernah tinggal di daerah penelitian, maka metode grounded research dengan pendekatatan situasi sosial, dengan memaksa peneliti berkecimpung penuh dalam penelitian awal hingga ahir sangat bisa lebih akurat.
4) Kombinasi Pendekatan Kuatitatif Dan Kualitatif
Metode seperti ini adalah campuran penyajian data, baik secara kuantitatif mauapun kualitatif, seperti penjelasan sebelumnya model kuantitatif cenderung menggunakan data kuesioner dangan survai, sedangkan kualitatif memberatkan pada pengamatan.
Tentu dalam penggabungan kedua unsur diatas, bisa dilakukan dengan cara memberi kuesioner kepada responden serta mencatatan dalam bentuk slip untuk memperkuat data diluar pertanyaan kuesioner.
Penambilan data kuantitatif dan kualitatif terasa lebuh apik, dan singkron bagi keduanya demi memunculkan nuansa hidup dalam laporan penelitian.
5) Analisa data skunder
Analisa data skunder adalah bentuk penjelasan secara berkala dari data yang sudah tersedia, hal ini untuk terus melakukan pembenahan dalam laporan.
Jenis motene ini cenderung lebih mudah dibandingakn yang lain, sebab dalam cara seperti ini peneliti tak usah bersusah payah melakukan penelitian yang memakan waktu dan biaya banyak, karna data sudah terkumpul.
B) Proses Penelitian
Dalam rangka membahas proses penelitian, tak semudah mengembalikan telapak tangan, apalagi peneliti baru atau peneliti awal dibutuhkan kepekaan dan minat serta didukung dengan oleh akal sehat (camon sense), demi menampilkan hasil yang baik.
Susunan kaidah ilmiah, pada tahap yang sistematis lagi-lagi harus menjadi perhatian khusus oleh seorang peneliti, tindalkan seperti ini untuk hasil kesempurnaan yang tiada hentinya, adapun langkah-langkah yang laazim dilakukan adalah sebagai berikut ;
Merumuskan masalah penelitian dan menentukan tujuan survai
Menentukan konsep dan hipotesa serta menggali kepustakaan, misalnya pada penelitian oprasional
Pengambilan sempel
Pembuatan koesioner
Pekerjaan lapangan, termasuk memilih dan melatih pewawancara
Pengolahan data
Analisa pelaporan
Setep-step langkah tangga diatas harus dilalui secara sistematis, demi menciptakanb karya yang luar biasa dari yang biasa.
Saat Belajar Kesalahan
***
Di tengah keraguaan tentang kelulusaan sarjana, yang mencuat takala media menyebar pemberitaan, tak tau siapa yang benar dan salah, hal ini nampak seperti koin yang mempunyai sisi berlainan dan saling menutupi, mempublikasi kelulusan Fajrian (alumni FISIP 2011) yang dikabarkan telah manjadi Pegawai Negri Sipil (PNS) di DKI Jakarta, Pada ahirnya banyak pihak yang menimbulkan pertanyaan, pasalnya dia adalah angkatan 2002 dan lulus 2011, maka setidaknya hal ini yang ahirnya menjadi potret pembelajaran UNILA.
Apalagi status Universitas Negri satu-satunya di Propinsi Lampung, layaknya UNILA mengemban amanah begitu berat, selain sebagai tauladan juga di tuntut sebagai cerminan pendidikan regional (wilayah) dan nasional, namun yang menjadi masalah jikalau output unila masih dipertanyakan media, lantas bagaimana dengan peran pendidikan yang dibanggakan.
Mungkin hal ini yang menggugah hati mereka yang mengatas namakan Aliensi Peduli Universitas Lampung yang terdiri atas gabungan oraganisasi mahasiswa baik di tingkat universita dan fakultas, melakukan demontrasi damai di depan gedung rektorat pada Senin (20/05/2013) , dengan tuntutan global kesarjananan Fajrian yang tak prosedural.
Dalam hal ini kita tak bisa menilai mana yang benar dan salah, namun sebagaimana wacana yang selalu dicari adalah penyelesaian, bukanlah kita selama ini banyak membicarakan kesalahan yang tak juntrung menuai titik terang, agaknya ada hal yang terlupakan yaitu relevansi (keterkaitan) antara mahasiwa dan para fasilitator kampus yang mempunyai peran penting dalam kelangsungan pendidikan.
Cerminan mahasiswa sendiri sekarang tergambar dari ungkapan Mahfud MD (Mantaan Mahkama Kontitusi) tentang lulusan universitas bukan berarti aset, tetapi menjadi beban negara (Kompas, 2012), kata itu beliau lontarkan ketika Dies Natalis di UNHAS (Universitas Hasanudin) Propinsi Makasar, maka dapatlah disimpulkan kenyataan yang ada serta investigasi yang terjadi, mahaiswa saat ini sebagai agent of change belum sesuai kiteria.
Realitasnya memang demikian, Mahasiswa (Khususnya UNILA), Saat ini bukan lagi mementingkan kualitas tapi lebih mementingkan nilai formalitas (Indeks Prestasi ataupun Indeks Prestasi Komulatif) , Yang bisa saja di dapat dari menyontek penanaman nilai ketidak jujuran atau pengaruh nepotismne yang membudidaya, hasilnya tentu tak semaksiamal yang diharapakan, sebut saja koruptor yang awalanya tercipta dari para akademisi yang mempunyai peran perubahan, dengan ketidak jujuran ahirnya merugikan rakyat sebagai penguasa, belum lagi masalah nepotisme dalam sistim pendidkan akan membuat orang teralienasi (terasingkan) takala menempati bidang yang bukan menjadi keinginanya (tori Karl Mark dlm M.Sihaan, Hotman 1986)
Kedua adalah fasilitator kampus yang berfungsi menjebatani semua hak dan kewajiban secara seimbang, mencuatnya masalah kesarjanaan setidaknya menjadi pengoreksian bagi para fasilitator agar lebih meningkatkan ketajaman serta keseriusan dalam menagani segala kewajiban.
Jika hak dan kewajiban tidak dibarengi secara seimbang otomatis konflik internal takan bisa di selesaikan, Pembangunan di berbagai gedung fakultas berserakan, aturaan rambu jalan yang banyak dilanggar, serta kebersihan birokrasi yang masih dipertanyakan adalah contoh kongrit yang saat ini terlihat.
Maka seharusnya sudah saatnya UNILA belajar dari berbagai kesalahan, secara de facto (kenyataan), sehingga nantinya manfaat out put mahasiswa bisa dirasakan masyarakat lampung yang dirasa tinggi mengalami berbagai berbagai macam konflik.
Apalagi 48 tahun lamanya, usia yang tak lagi muda, seharusnya UNILA memang memunculkan eksitensinya sebagai perguruan tinggi yang bisa menjadi acuan bagi masyrakat luas, maka salah satu PR terbesar UNILA bagi semua elemant adalah terciptanya pendidikan berkualitas.
Ahirnya setelah perbaikan internal diutamakan sebelum memperbaikai secara external, nantinya terwujud pendidikan berkwalitas, semuga !
episode 3 Pelajar Sial
Pelajar Sial
Meniti kehidupan, setiap orang perlu namanya pendidikan, dan menurut psikolog sendiri awal kita mempelajari itu semua dari keluarga, maka wajar saja “karakter” biasanya lebih condong pada kebiasaan keluarga yang di tanamkan. Istilah ungkapan
“buah tak akan jauh dari pohonya”
Coba saja anda bayangkan,
“anak pejabat lambat laun jadi pejabat”
“anak petani, lambat laun tetep jadi petani”
“anak konteraktor, anak koruptor, hingga anak profesor, lambat laun juga akan seperti itu
Hidup ini seperti di sekenario, atau ada unsur nepotisme yang membudidaya, hehe
Seperti juga kisah hidup, yang akan ku tulis, tentang perjalanan pendidikan, Dalam catatan keluarga kami termasuk dalam kategori menjalankan KB tapi bukan Keluarga Berencana, melainkan Keluarga Besar, alias banyak anak, mungkin ada pengaruh keyakinan
“banyak anak banyak rizki”
Bermakna setiap anak sudah menyediakan rizki tersendiri, Secara berangsur-angsur dan turu temurun keyakinan itu ada, dan sudah tersugesti demikian ungkapan itu, ahirnya terwujud, tentunya dengan rasa syukur.
Proses belajar yang ku jalani termasuk sial, Pasalnya di atas rata-rata, awalnya menempuh pendidikan TK (taman kanak-kanak), harus ku alami selama tiga tahun, hingga menjadi julukan Taman Kawak-Kawak, banyak cerita di massa ini seperti hinananm, caci maki, namun ibuku selalu mencari amibi agar aku tak kecewa dengan julukan “Anak bawang”
“anaku ini sebenarnya gak goblok, tapi masih kecil aja jadi belum boleh naik kelas” ungkap beliau pada rekan-rekan sesama ibu-ibu
Detak jam menjadi saksi bisu yang tak bicara, pendidkan TK yang melebihi batas membuatku bukan tergolong anak pintar, sialnya saat-saat itu kembali ku alami di waktu SD yang lulus selama tujuh tahun, tepatnya saat kelas satu harus tingal kelas, bahasa julukannya tunggak ireng.
“sial-saal kataku dalam hati”
Jatuh bangun hidup ini, seperti putaran roda ada massa bahagia juga ada massa sengsara, tapi mengapa sampai lulus SD yang gua alami banyak massa sengsara.
Setelah beberapa hari membuat galau, penelitianpun dilakukan, ternyata observasi survai pada batin, yang saya lakukaan menemukan jawaban bahwa “Rasa Itu Ada Ketika Hidup Ini Tak Di Sukuri”
Maka syukuri, segala yang ada..........
Meniti kehidupan, setiap orang perlu namanya pendidikan, dan menurut psikolog sendiri awal kita mempelajari itu semua dari keluarga, maka wajar saja “karakter” biasanya lebih condong pada kebiasaan keluarga yang di tanamkan. Istilah ungkapan
“buah tak akan jauh dari pohonya”
Coba saja anda bayangkan,
“anak pejabat lambat laun jadi pejabat”
“anak petani, lambat laun tetep jadi petani”
“anak konteraktor, anak koruptor, hingga anak profesor, lambat laun juga akan seperti itu
Hidup ini seperti di sekenario, atau ada unsur nepotisme yang membudidaya, hehe
Seperti juga kisah hidup, yang akan ku tulis, tentang perjalanan pendidikan, Dalam catatan keluarga kami termasuk dalam kategori menjalankan KB tapi bukan Keluarga Berencana, melainkan Keluarga Besar, alias banyak anak, mungkin ada pengaruh keyakinan
“banyak anak banyak rizki”
Bermakna setiap anak sudah menyediakan rizki tersendiri, Secara berangsur-angsur dan turu temurun keyakinan itu ada, dan sudah tersugesti demikian ungkapan itu, ahirnya terwujud, tentunya dengan rasa syukur.
Proses belajar yang ku jalani termasuk sial, Pasalnya di atas rata-rata, awalnya menempuh pendidikan TK (taman kanak-kanak), harus ku alami selama tiga tahun, hingga menjadi julukan Taman Kawak-Kawak, banyak cerita di massa ini seperti hinananm, caci maki, namun ibuku selalu mencari amibi agar aku tak kecewa dengan julukan “Anak bawang”
“anaku ini sebenarnya gak goblok, tapi masih kecil aja jadi belum boleh naik kelas” ungkap beliau pada rekan-rekan sesama ibu-ibu
Detak jam menjadi saksi bisu yang tak bicara, pendidkan TK yang melebihi batas membuatku bukan tergolong anak pintar, sialnya saat-saat itu kembali ku alami di waktu SD yang lulus selama tujuh tahun, tepatnya saat kelas satu harus tingal kelas, bahasa julukannya tunggak ireng.
“sial-saal kataku dalam hati”
Jatuh bangun hidup ini, seperti putaran roda ada massa bahagia juga ada massa sengsara, tapi mengapa sampai lulus SD yang gua alami banyak massa sengsara.
Setelah beberapa hari membuat galau, penelitianpun dilakukan, ternyata observasi survai pada batin, yang saya lakukaan menemukan jawaban bahwa “Rasa Itu Ada Ketika Hidup Ini Tak Di Sukuri”
Maka syukuri, segala yang ada..........
diary 4 “Nasib Idul Fitri”
Idul fitri berasal dari kata idul yang artinya kembali dan fitri (fitroh) dalam bahasa arab suci, maka secara keseluruhan idul fitri berarti kembali suci.
Setiab tahun dan setiap momen kemenangan, perasaan yang sama selalu gua alami dimana, sama-sama gak punya cewek, sama-sama gak dikasih duit dan yang terpenting sama-sama melakukan rutinitas sebagai PENDEKAR (penderes karet).
Sejenak ku manatap langit, ada sedikit perubahan frontal dari tahun ketahun tentan uang saku yang semakin kecil, mungkin disebabkan hadirku masih dianggap komsumsi.
Tempo dulu, setiap berkunjung dirumah kakek, paman, budi sampai oom
“ini buat beli es ?” kata itu selalu keluar sembari beliau memasukan tanganya kedalam kantong memberi uang 10 samapi 20 ribu.
Katanya ungkapan
“wah-wah-wah senengnya seperti lebaran bersamaan agustusan”
Tapi itu agaknya massa lalu, kini semua berubah seiring dengan massa apalagi otak ini sekarang sudah riskan rasanya menerima pelayaanan seperti tempo dulu.
Banyak remaja di sekitarku berkeliaran, bagi mereka ini ajang mencari perhatian pacar, tapi saya katakan “tidak” bagiku
“ini ajang taruahan mana laku dan tidak laku !” hati ini berkilah dari pembenaran
Satatus “jomblo” yang terpampang semuga memberikan banyak hikmah, salah satunya ngrit masalah biyaya pacaran, apalagi kali ini hadir keuanganku sama dari tahun kemaren
“sama-sama gak punya duit”
Namaun bagai manapun harus merasa bersyukur masih bertemu bulan suci, meskipun nyatanya tahun ini sama segalanya semuga tahun esok tuhan memberikan secercah cahaya kebagiaan, dengan ini saya proklamirkan keuangan tak menjadi masalah, dan status jomblo bukan masalah. Yang terpenting tahun esok masih bertemu bulan suci “aku ridu padamu romadhon” semuga !!!!.........
STAR AND GIVE UP !!
Langganan:
Postingan (Atom)